Hallo teman-teman, pada postingan kali ini saya akan menulis tentang tanaman jewawut atau istilah daerahnya (daerah luar sono, hehehe) disebut foxtail millet, hal ini karena bentuknya seperti ekor dari serigala. Kalau daerah sini dikenal dengan banyak istilah, diantaranya sekuai/sakui/sakuih (di Minang), jawawut/kunyit/sekui (di Sunda), jawawut/juwawut/otek (di Jawa), beteng/weteng/bane (di Sulawesi), dan masih banyak lagi sebutannya di daerah lain (sumber: Wikipedia).
Jewawut (Setaria italica) ini dikenal sebagai tanaman serealia dengan biji yang kecil (millet) yang pernah menjadi makanan pokok masyarakat di Asia Timur dan Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri konon katanya dijadikan makanan pokok sebelum dikenalnya beras, tepatnya pada masa penjajahan Jepang di Indonesia. Akan tetapi perannya sebagai makanan pokok mulai tergantikan setelah adanya tanaman padi dan jagung. Padahal secara kandungan nutrisinya, jewawut memiliki kandungan yang lebih baik daripada beras dan jagung, dimana kandungan nutrisi dari jewawut meliputi: karbohidrat 84.2%, protein 10.7%, lemak 3.3%, dan serat 1.4% (sumber: Balitbang Kementerian Pertanian). Sekarang banyak yang menggunakan jewawut sebagai pakan burung, terutama burung perkutut, dan daunnya sebagai pakan ternak.
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya pertengahan Bulan Mei 2020 saya membaca postingan di media sosial, bahwa dengan 3 sendok jewawut bisa menjadi 4 mangkok bubur jewawut. Berawal dari postingan tersebut saya penasaran dengan tanaman jewawut tersebut, karena saya memiliki rencana mengumpulkan tanaman pakan alternatif untuk pakan ternak, terutama ternak ikan dan unggas. Akhirnya saya membeli benih dan mencoba menanamnya pada polibag kecil (ukuran diameter 15cm) untuk masa percobaan, berikut merupakan penampakan dari tanaman jewawut yang berumur sekitar 3 pekan setelah semai.


Dari beberapa sumber online, baik dari grup di media sosial tentang tanaman ataupun beberapa tulisan blog tentang tanaman, saya mendapatkan informasi bahwa jewawut bisa tumbuh pada tanah yang miskin hara dan bisa bertahan pada tanah yang kering dengan tanpa (minim) pemupukan. Dengan informasi tersebut, saya mencoba merawatnya dengan hanya menyiramnya pada saat media tanamnya sudah kering dan memberikannya sedikit pupuk, yaitu saya memberikannya pupuk sebanyak 1 sendok makan yang dilarutkan pada 5 liter air dengan frekuensi 1 bulan sekali.
Sesuai dengan informasi yang didapat dari sumber online, bahwa jewawut mampu hidup pada tanah yang miskin hara dan kering, jewawut yang saya tanam memiliki pertumbuhan yang cukup bagus dari waktu ke waktu, sampai pada pekan ke 7 (tujuh) setelah semai mulai menampakan bunga pertama. berikut beberapa foto jewawut pada pekan ke 7 (saat mulai keluar bunga).
Ada yang membuat saya takjub ketika melihat perkembangan dari bunga jewawut ini, dimana bunga jewawut tumbuh dengan cepatnya, hanya dalam satu hari bisa tumbuh dengan bertambah panjang sekitar 10 cm, untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada foto dibawah ini yaitu foto bunga jewawut setelah umur 1 hari setelah keluar (bisa dibandingkan dengan foto di atas pada saat bunga baru keluar).
Maaf jika ada kesalahan dan kekeliruan dalam tulisan ini. Mohon tulis koreksi dan sarannya pada kolom komentar di bawah ini. * Terimakasih * |
No comments:
Post a Comment